Diary Anak Broken Home dalam Catatan

FaktaAnak.Com- Cerita mengenai adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT seringkali kita temukan dalam keseharian, baik di dalam masyarakat, sekolah, kuliah, atau bahkan disaat dikalangan sudara kita sendiri. Oleh karena itulah pada artikel ini akan membagikan untaian catatan kisah anak terbaik dari korban perceraian rumah tanggal atau broken home yang dialami oleh seorang anak.

Diary Anak Broken Home


Berikut ini cerita mengenai pengalaman yang dialami oleh seorang anak sebagai salah satu korban KDRT, yang menjadi akibat kedua orangtua berpisah. Adapun penulis dalam cerita ini ialah Alifia Septi Widiastuti dengan judul Anakku Bukan Anakku.

Begini, Cetatan Anak Broken Home

"Anak ku Bukan Anak Ku".

Kata-kata tersebut menandakan tidak layak seorang wanita bisa menikmati anugrah dalam proses tersebut, karena wanita adalah awal kehidupan anak yang bisa dipanggil ibu. Mungkin banyak didengar oleh kalangan masyarakat di beberapa belahan dunia, anak-anak yang lahir di luar nikah tidak layak hidup, hal yang paling sepele saja seperti hidupnya tidak bahagia, tidak normal, keterbelakangan mental, logika mengedepankan ego pribadi, perilaku seakan-akan dia yang paling sempurna, dan penghargaan akan kelebihan dipandang sebelah mata.

Bukan masalah ilmu, penelitian hukum namun masalah etikka secara global yang memperburuk hal sepele ini. Secara sadar, semua orang berhak memiliki hak dan kewajiban akan hal ini, hanya saja perlu diperhitungkan secara matag-matang. "apakah sudah memiliki syarat yang ada dalam proses ini? Adakah tindak lanjut akan masalah selanjutnya? Apa proses dalam hal ini berjalan lancar atau justru sebaliknya?" itu yang perlu dijawab oleh kalangan wanita.

Pengalaman tergolong sebagai fakta anak broken home tidaklah seindah seperti anak lain yang penuh kebahagiaan secara pro dan contra. Tidak banyak juga semua anak mengalami hal tersebut. Tangkapan mata, anak bukan anak. Itu tandanya seorang anak tersebut tidak memiliki masa depan yang cerah tanpa kehadiran orang terkasih yang sangat ia dambakan.

Dikatakan hal tersebut, jika ia hilang sebelum bernafas di dunia. Apalagi dilahirkan di dunia dengan penuh siksaan yang ia, timang sampai dewasa. Padahal, penglihatan orang lebih tajam dari pemikirannya yang tidak semua orang mahir akan hal itu.

Kewajaran seseorang dalam mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya terutama ibu sangat diwajibkan mereka beri tanpa pamrih. Mulai dia bayi sampai anak tersebut mampu menikmati dunianya sendiri tanpa kehadiran seorang ibu.

Tidak dan bukan berarti anak tersebut tidak butuh posisi seorang ibu hanya saja posisi ibu apa dulu yang jelas ibu kandung yang melahirkan anak tersebut bukan ibu angkat yang mereka rawat sampai besar dengan pengecualian anak yatim piatu.

Ketika anak seudah mengetahui dunia bermain disampingnya hanya butuh kasih sayang yang penuh tanpa terputuskan sampai anak tersebut lepas dengan kasih sayang itu. Kadang kala, ada anak sudah waktunya belajar mandiri masih saja dimanja dengan alasan logis, padahal kata manja untuk seorang ibu pada anaknya hanya sekedar kasihan melihat sie anak yang kehilangan imajin akan msasa depannya yang sangat suram sekali.

Kenangan indah bersama ibu ketika usia 3 tahun. Saat itulah, perpisahan berat yang dialami saya secara mental dan fisik. Perasaan sakit akan kehilanagn ibu tercinta, bukan kehilangan seorang ibu namun kepergian seorang ibu demi masa depan anak tunggalnya.

Sungguh perpisahan ini sangat disayangkan, namun tidak membungkam semangat saya dalam menjalankan hidup seperti sekarang ini. Apalagi banyak orang mengatakan bahwa pengaruh perceraian orangtua terhadap anak akan berdampak pada masa depan.

Apakah ada seorang ayah yang tidak melihat anaknya bahagia dengan dunianya sendiri yang penuhakan kebebasan berjalan lurus dengan etika. Fakta, tidak heran tradisi di kalangan masyarakat yang membuat penekanan batin terhadap anak di luar kemampuan dan keinginan sie anak.

Untung saja permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan kepala dingin layaknya es batu. Kontak dengan masyarakat butuh interaksi yang sangat lama juga butuh kesabaran dalam menghadapi hantaman caciyan terasa asing di telinga pendengar.

Baca Juga;
Semua itu tidak berakhir sekecap akan berlangsung sampai nafas bisa dihembuskan. Anak adalah pioritas utama dalam kehidupan berumah tangga. Jika kehidupan rumah tangga bergejolak jangan sekali-kali menyalahkan sie anak, padahal sie anak bukan terlahir sebagai bahan pelampiasan KDRT orang tua.

Belum ada Komentar untuk "Diary Anak Broken Home dalam Catatan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel