Pengalaman Menjadi Anak Tunggal

FaktaAnak.Com- Tak pernah terbayangkan oleh saya kalau saya akan tumbuh dewasa sebagai anak perempuan semata wayang (tunggal) dari kedua orang tua saya. Selama puluhan tahun perjalanan hidup saya, tentunya banyak lika-liku kehidupan sebagai anak tunggal yang mesti saya hadapi.

Menjadi Anak Tunggal


Sejak kecil hingga sebesar ini, tak jarang saya mendengar berbagai pandangan miring terkait posisi saya sebagai anak tunggal, mulai dari pandangan teman-teman, keluarga, tetangga, guru, hingga orang-orang yang tak saya kenal di luar sana.

Anda para pembaca yang juga memiliki pengalaman menjadi anak tunggal pastinya pernah mengalami hal serupa kan. Memang, kita semua sebagai individu sangat boleh berpendapat mengenai berbagai hal, namun kebanyakan kita melihat suatu hal hanya dari satu sudut pandang yang terlihat dari luar.

Meskipun begitu, tak sedikit pula lho yang berpikiran lebih terbuka dan berani menelaah lebih dalam mengenai hal yang sebenarnya dari anak tunggal. Baik itu orang awam seperti kita, maupun para ahli
yang mumpuni di bidangnya.

Karakter

Telah banyak saat ini penelitian oleh pakar-pakar mengenai karakter si tunggal yang telah dipublikasikan pada media informasi. Ada pula buku-buku tentang anak khususnya anak tunggal yang juga ditulis oleh para pakar.

Akan tetapi, penelitian mengenai anak tunggal tersebut biasanya hanya berlaku sebagai gejala umum, dengan kata lain tidak semua karakter yang disebutkan oleh para pakar dimiliki oleh semua anak tunggal di dunia ini.

Sesungguhnya, karakter dominan seorang anak terbentuk belum tentu dari urutan kelahirannya, melainkan disebabkan oleh pola asuh orang tua serta lingkungannya. Apabila orang tua mengasuh anaknya dengan baik dan tepat, maka sang anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan membanggakan.

Ini berarti bagi Anda yang sedang menjadi orang tua dari anak tunggal janganlah sampai Anda salah mengasuh anak, karena kalau anak Anda salah asuhan, bisa jadi stereotip masyarakat tentang anak tunggal bukannya terpatahkan malah menjadi kenyataan.

Begitu juga bagi Anda yang telah berhasil mendidik anak tunggal Anda dengan tepat, usahakan jangan sampai strereotip masyarakat mempengaruhi pikiran dan mental si tunggal yang akhirnya bisa membuat si tunggal merasa tertekan atau berdampak pada perubahan perilaku si tunggal menjadi ke arah stereotip tersebut.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang tunggal, bukan hanya satu kali saya mendengar langsung stereotip-stereotip ini. Dahulu ketika masa kecil, banyak dari keluarga saya yang “mengejar” orang tua saya untuk memberikan saya seorang adik.

Mereka menganggap apabila saya tidak mempunyai adik, saya akan kesepian dan bosan dengan
kesendirian. Nyatanya masa kecil saya tidak sebegitu kesepiannya sebagaimana orang lain pikir. Saat merasa sepi, saya akan bermain dengan tetangga saya, mulai dari main petak umpet, bermain boneka, hingga keliling kampung bersama dengan sepeda.

Atau hanya dengan melakukan kegiatan dengan orang tua saya seperti memasak dengan Ibu, menonton film bersama, bermain ular tangga dengan Ibu saya. Atau terkadang hanya asyik bermain sendiri dengan berbagai mainan sambil bicara sendiri, hahaha. Akan tetapi semua itu sudah sangat membuat saya begitu bahagia.

Sedikit bercerita tentang kedua orang tua saya, mereka bukannya tidak menginginkan kehadiran seorang adik untuk saya. Apa boleh buat bila saat itu Tuhan memang tidak memberikan rezeki pada orang tua saya untuk memiliki anak lagi.

Namun karena saat ituorang tua saya masih berpengharapan kuat dapat memiliki seorang anak lagi, maka setiap ada yang bertanya berapa jumlah anak mereka, jawaban mereka adalah: baru satu, belum dikasih oleh Yang Mahakuasa. Lama-kelamaan setiap ada yang bertanya juga pada saya apakah saya punya adik, jawaban saya pun mengikuti jawaban orang tua saya: belum dikasih oleh Yang Mahakuasa. Hahaha.. namanya juga anak-anak, bisanya hanya mengikuti ucapan orang tuanya, bukan?

Meskipun saat itu orang tua saya sangat berpengharapan besar dapat memiliki seorang anak kembali, sayangnya hingga saya remaja saya masih saja menjadi si tunggal. Harapan saya untuk dapat memiliki adik seperti anak-anak yang lain pupus sudah.

Pada masa ini, saya mulai merasakan beberapa kesulitan. Semua orang pasti tahu bahwa cara bergaul pada masa kanak-kanak berbeda dengan masa remaja. Pada masa remaja ini, anak-anak biasanya akan mulai berlatih lebih dewasa, misalnya pulang-pergi ke suatu tempat tanpa didampingi orang tua, mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang tua, hingga menjalani pergaulan yang lebih dewasa daripada masa anak-anak.

Sedangkan di lain sisi, remaja masih belum siap untuk tidak bergantung pada orang tuanya sepenuhnya dikarenakan mentalnya yang belum matang dan stabil sehingga masih sangat perlu bimbingan orang tua.

Dari sekian contoh yang saya sebutkan di atas, bagi fakta anak remaja yang tumbuh besar dengan saudara kandungnya mungkin bukan perkara yang sulit untuk beradaptasi dengan hal-hal tersebut. Namun bagi kami si tunggal, meskipun keinginan kami untuk mandiri sangat besar, hal itu kurang sejalan dengan kesiapan orang tua.

Sedangkan dalam hal pemecahan masalah di masa remaja, kita pasti tahu bahwa tidak semua masalahdapat dibagi ke orang tua bukan, hihi. Pada masa ini kami juga tetap menurut pada kemauan orang tua, ini demi menyenangkan hati mereka, satu-satunya sosok yang menemani hidup kami sebagai pengganti saudara kandung.

Karena hal tersebut, kami pun sering mendapat pandangan miring bahwa kami kurang pergaulan. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Beberapa dari kami hanya sedikit lebih lambat dibanding anak remaja lainnya terutama dalam hal pergaulan dengan teman sebaya karena kami umumnya lebih sering bergaul dengan orang dewasa, sehingga kami juga akan lebih nyaman berada di lingkungan orang yang jauh lebih tua. Tapi hal itu bukan berarti kami tak bisa berubah selamanya.

Apabila pada masa remaja si tunggal sering mendapat stereorip negatif, orang tua dari si tunggal terkesan membatasi pergaulan anaknya. Mereka yang berpandangan demikian tidaklah mengerti apa sebanrnya tujuan orang tua si tunggal bertindak demikian.

Kalau saya pikir kembali, orang tua saya hanya sangat selektif untuk urusan pergaulan saya sehingga saya hanya diizinkan pergi bersama teman yang sudah dikenal baik oleh orang tua saya dengan tujuan agar saya tidak salah pergaulan. Mereka hanya khawatir saya menjadi orang yang “terlalu gaul” hingga melupakan pendidikan saya.

Selain itu, maksud mereka juga hanya ingin memberikan saya perlindungan dan fasilitas agar dapat meraih prestasi akademik yang maksimal. Ya, saya paham akan sikap mereka, semua itu demi masa depan saya. Ini karena sayalah harapan satu-satunya yang mereka punya. Dan untuk sebagian anak tunggal, termasuk saya, pendidikanlah yang dianggap jalan terbaik untuk dapat membalas segala pengorbanan mereka suatu saat nanti.

Maksud dari orang tua saya untuk membatasi pergaulan saya dengan harapan agar saya tidak melupakan pendidikan saya pun terwujud mulai dari prestasi, nilai, dan peringkat di sekolah yang memuaskan hingga sekarang saya mempelajari bidang yang saya minati di sebuah perguruan tinggi negeri yang saya inginkan.

Pernah saya membaca pada sebuah laman berita bahwa menurut ahli, si tunggal ini umumnya lebih percaya diri, perfeksionis, dan sangat akademik. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada si tunggal yang dilahirkan dari keluarga mampu dalam artian finansial.

Sebagaimana saya yang terlahir bukan dari keluarga yang berada, akan tetapi orang tua saya kerap melakukan pengorbanan demi pendidikan saya. Hal tersebutlah yang selalu membuat saya, dan anak tunggal lainnya, menjadi terlalu bersemangat dan memaksakan diri dalam mewujudkan cita-cita demi berbakti dan membanggakan orang tua sebagai satu-satunya harapan yang kami punya.

Mengingat hal bahwa kami yang akan memiliki tanggung jawab penuh nantinya ketika orang tua tak mampu lagi menjadi tulang punggung keluarga, tanpa dukungan satupun saudara kandung. Dari sini kita semua baru akan dapat mengerti, mengapa orang tua si tunggal begitu melindungi, memerhatikan, memenuhi fasilitas serta kebutuhan si tunggal khususnya dalam hal akademik dan pergaulan karena di balik itu semua ada harapan besar para orang tua beranak tunggal terhadap si tunggal.

Sehingga secara tidak langsung si tunggal umumnya akan memikul tanggung jawab lebih berat dibanding mereka yang hidup bersama saudara kandung. Tetaplah semangat wahai anak-anak tunggal serta para orang tua dari si tunggal. Karena si Tunggal, harapan satu-satunya.

Demikianalah rangkaian penjelasan dan uangkapan curahan hati yang ditulis dan disajikan oleh Salsabila Luthfiyah  dengan judul asli dalam artikelnya "Rahasia Di Balik Si Tunggal". Semoga tulisan ini bisa memberikan referensi dan wawasan kepada segenap pembaca. Trimakasih, 

Belum ada Komentar untuk "Pengalaman Menjadi Anak Tunggal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel