Cerpen Untuk Anak Sebagai Plagiator Ulung

FaktaAnak.Com- Rangkaian cerita pendek yang menarik untuk anak berdasarkan pengalaman sangtlah penting untuk ditelaah lebih dalam bagi segenap pembaca sekalian. Salah satu tulisan ini, yang berjudul Cerpen Untuk Anak Sebagai Plagiator Ulung.

Cerpen Untuk Anak Sebagai


Adapun tulisan ini didasarkan pada pengalaman nyata. Beginilah ceritanya;

Namaku Dila. Seorang gadis keras kepala, egois dan penuh mimpi yang menerobos langit sambil menunggangi burung tak berkepak sayap untuk menapaki dunia pendidikan tinggi. Berpergiaan jauh dari kampung halaman menetap di kota yang asing lagi baru. Ya, Yogyakarta.

Sebuah kota indah lagi romantis dengan segala pemikiran kritis. Disinilah aku, menjadi aktor dalam seluk kehidupan kota mahasiswa sekaligus kota kuliner gudek ini. Tapakku kian jauh meninggalkan kota ujung bagian barat Indonesia sana dengan segala kenangan dan memori masa kecil yang tak terulang.

Aceh, itulah asalku. Aku melihat segala refleksi hidup dalam masa anak-anak , yang kini telah kutinggal.

Segalanya adalah buah yang kini kugenggam. Peniru. Ya itulah benih aku pada usia sekolah dasar. Masih ingat tempat manapun didesa adalah pertualangan besar bagiku, bukan tanpa alasan. Ini adalah hasil dari film action yang kutonton dan kuwujudkan bersama anak-anak kampung lainnya.

Berlomba dan berlari menaiki bukit dibelakang rumah yang dibawahnya terbentang sawah dan ladang yang salah satunya milik ayahku. Diatas sana pelepah pisang jadi senjata serupa nuklir, padang ilalang yang tinggi melebihi tubuhku menjadi banteng paling kuat dibangingkan banteng dunia manapun, tali plastik menjadi ranjau yang hebat, disaat beberapa temanku yang berperan menjadi musuh lewat, aku dan satunya mengangkat tinggi-tinggi tali yang tadinya kami taru ditanah seolah tak terpakai, sekarang menjadi ranjau yang membuat mereka jatuh. Inilah peran yang hebat, serupa film series superhero yang selalu kutonton minggu pagi.

Aku menikmatinya dan ini tak akan berhenti sampai lembayung senja melambai-lambai dibelakang bukit, suara panggilan indah terdengar di segala surau dan jangan lupakan ibuku yang berdiri dikaki bukit dengan wajah lelah berteriak mengelegar menyuruhku untuk turun.

Masa kecilku. Peniru film. Bukan, lebih tepatnya aktris film. Peniru yang hebat adalah anak-anak, itulah yang coba kuceritakan. Anak-anak itu asalnya bodoh, mereka tak tahu apa-apa. Semua hal yang diucapkan dan dilakukan adalah KW kelas parah.

Masih segar dalam ingatanku, ketika jargon potong leher merebak disekolah. Angkatan bukan prioritas yang penting, semua siswa berhak melakukannya. Aku pun begitu. Memperagakan tanda itu pada setiap orang yang kujumpai, teman, adik kelas, kakak kelas dan anak sekolah lain yang sering main dilapangan sekolahku, namun hal ini tidak akan terjadi didepan keluargaku.

Salah satu korban dari sikapku adalah nur. Anak perempuan centil nan cerewet itu ketika tak mengizinkanku main Lompat Karet langsung kuhadiahi dengan tangan dileher dan digerakkan dari kanan kekiri atau sebaliknya.

Jargon potong leher. Dia membalasku, namun aku tak mau kalah malah lebih menjadi-jadi dengan memelototinya. Dan Ia pun pulang dengan hidung merah dan mata berkaca menahan nangis. Selain potong leher, sikap peniru atau imitation ini mencakup banyak hal dan dalam segi apapun.

Seorang anak akan selalu melihat kakaknya atau keluarganya dalam menapaki hidup, seperti pedoman yang akan dibawa mati serupa kitab suci yang tak terganti, itulah jati diri anak kecil. Peniru handal.

Akupun begitu, keluargaku hidup dalam zona religi islam yang kuat, kakek-nenek adalah guru ngaji dan imam desa terhormat sedangkan ayah-ibu keturunan jauh dari raja-raja terdahulu, begitu denganku.

Segala masalah peribadahan ku tiru dengan baik dan bacaan yang fasih. Selain itu, satu hal yang paling kutiru hingga kini adalah kejombloannya. Keluargaku tidak pernah ada yang pacaran dalam konteks islami sekalupun, jadi aku menirunya.

Rasanya berlipat dan melangit maluku jika mengingkarinya pelajaran yang kutiru ini. Bukan masalah juga bagiku jika dianggap jomblo, jones ataupun tak laku, disaat teman ada yang begitu, setelah kulihat dan kuingat hingga kini teman ku yang pernah pacaran rata-rata karena keluargannya ada yang begitu.

Inilah hakikat peniru, Ia akan melekat lebih dalam dan terkenang. Banyak hal yang telah kugengam dan kutiru bahkan sejak aku lahir, ketika kata Umi dan Abi terucap dari mulut untuk pertama kalinya, bukan karena aku pandai dan cerdas saat itu, tapi representatif dari ucapan harian ke empat kakakku.

Ada banyak sekali masa kecil aku yang dihabiskan dengan meniru, bahkan setelah dicerminkan hingga kini semuanya penuh dengan bahan imitasi. Oleh karena itu, ingin bagaimanakah anak nanti tergantung siapa, apa dan bagaimana Ia meniru sesuatu.

Ada banyak hal baik dan buruk, manfaat dan mudharat yang didapatkan hanya kerena rekaman ingatan yang ditirunya. Di aceh sana, setiap tingkah laku dan pola sosial anak kecil pasti dihubungkan dengan orang tua terutama ayah dan ibu, lalu ketika menilai terucap” lagee mak keuh” atau “ lagee yah keuh” yang bermaksud bahwa tingkah laku itu seperti ayah atau ibunya.

Anak kecil adalah peniru hebat. Plagiator ulung yang tiada tandingannya. Semua yang aku lakukan adalah hasil bahan tiruan yang aku nyatakan. Rajin, rela berkorban, kerja keras dan hal baik lain yang kulakukan adalah hasil tiruan alias KW, tapi untungnya aku tidak meniru sifat cerewet ibu yang menyebalkan sekaligus merindukan apalagi tingkah ayah yang malas sangat kubenci dulu, namun kurindukan sekarang.

Dengan demikian, apapun itu, sebagaimana orang tua mengharapkan anaknya hebat dan unggul, hal itu tidak akan terjadi sebelum orang tua melakukan hal itu terlebih dahulu, lakukanlah dengan sangat elok, serta jangan lupakan bahwa Plagiator hebat nan ulung berada disekitar anda. Penulis artikel ini ialah Nurfadilah dengan judul "plagiator ulung". Trimakasih, 

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Untuk Anak Sebagai Plagiator Ulung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel