Gadget “Media Atau Penyebab”, Wajib Baca Bagi Yang Punya Gadget!


Faktaanak.com - Mungkin agak berbeda dengan jaman saya dulu, dimana permainan tradisi sangat eksis dan menjadi lumbung kami untuk bergaul dengan teman-teman. Gadget sekarang lebih dominan terlihat sebagai media permainan anak.  Tetapi saya melihat bahwa permainan yang dulu saya mainkan bersama teman-teman tidak 100% persen permainan itu “menguap hilang”.  Ada pengulangan permainan yang dilakukan oleh anak-anak sekarang khususnya untuk usia anak sekolah dasar.


Permainan Tradisional Masih Eksis

Salah satu contohnya adalah  “Singkongan”. Permainan ini adalah gubahan dari petak umpet, dengan penambahan sebuah piramid yang dibuat dari kayu sebagai penanda atau sumber dan semua pemain membawa “guthik” atau kayu sepanjang kurang lebih satu meter sebagai alat untuk menjatuhkan piramid, dan alat untuk “mencoret tanah” sebagai tanda peserta kena atau tidak oleh si penjaga. Teknisnya satu orang menjadi penjaga piramid, dan peserta lain akan ngumpet. Layaknya permainan petak umpet mereka akan berebut berlari menuju sumber kembudian akan berkata singkong. 

Singkongan bukan satu-satunya permainan tradisi yang masih eksis. Beberapa permainan semisal gundu atau nekeran, engklek, gobak sodor, atau bercok hingga layang-layang masih dimainkan. Uniiknya, semua permainan  berada dalam sebuah siklus layaknya “musim buah”, dan biasa disebut dengan usum. Ketika musim gundu semua anak bermain gundu, dan ketika musim layang-layang semua bermain layang-layang. Tak jarang permainan itu menyedot perhatian kaum pemuda hingga orang-orang tua untuk ikut bermain. Ketika itu sedang musim gundu yang bertahan cukup lama kira-kira enam bulan. Saking eksisnya permainan ini dimainkan oleh anak-anak, saya yang waktu itu sudah kepala dua dan beberapa teman sebaya serta bapak-bapak muda ikut bermain. Dan akhirnya menjadi candu untuk dimainkan setiap hari.  Kami pun bermain pada sore hari ketika hari-hari kerja dan ditambah pagi hari ketika hari libur.


Perangkat Lunak Adalah Salah Satu Penyebab Egoisme Individu

Perkembangan perangkat lunak android yang semakin hari semakin bagus secara tampilan tentunya menarik perhatian dari anak-anak.  Wacana bahwa prangkat lunak android merupakan salah satu penyebab egoisme individu karena terkikisnya hubungan sosial di kalangan anak akhirnya muncul. Tetapi apakah gadget sebagai penyebab utamanya?. Secara filosofos alat ini adalah media atau penghubung. Penghubung antar individu serta individu dengan informasi. Anak-anak yang bermain game bisa digolongkan dalam hubungan antara informasi dengan individu. Anak akan menyerap berbagai informasi dan menyimpan semua informasi yang berada dalam permainan yang mereka mainkan tanpa sortiran. 

Orang tualah yang harusnya menjadi mesin pemilih informasi untuk anaknya. Tetapi yang kita lihat saat ini orang tua memberikan fasilitas ini kepada anaknya sebatas untuk membuat anak duduk di rumah agar mudah diawasi secara dhohir (ketubuhan), dan tidak menjadikan alat abad 21 ini sebagai media pembelajaran yang menuntut orang tua untuk menjadi seorang tentor. Fakta ini terlihat jelas pada anak-anak yang belum bersekolah hingga anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar karena alasan “sangat berbahaya ketika membiarkan anak bermain di luar rumah sendirian”. Mereka diberikan perangkat android kemudian dibiarkan, dan ketika si anak membuka aplikasi yang membuat beberapa file penting terhapus, “kena semprotlah” si anak dengan berbagai hujatan.


Orang Tua Cerdas

Pendidikan sejak dini mutlak diperlukan guna membentuk karakter anak. Ali bin Abu Thalib berkata “didiklah anakmu sesuai zamannya”, tetapi bukan berati menghapus nilai masa lalu tentang sopan santun, andap asor, ataupun tepo seliro. Penekanannya adalah kepada cara mendidik yang mengikuti zaman. “jangan duduk di atas bantal, nanti kena ambeyen lho” atau “jangan mainan beras nanti tanganmu khiting”, begitulah cara orang orang tua dahulu menanamkan nilai sopan santun. Salah seorang teman kuliah yang berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar mengatakan, “anak zaman now lebih kritis, sebelum mereka mendapatan jawaban yang mereka anggap pas, mereka akan selalu bertanya. Hari ini bertanya dan tidak terjawab, besok ditanyakan lagi pertanyaan yang sama”. Kejadian yang sama juga dialami oleh seorang single parent yang kebetulan tetangga saya. Suatu ketika anaknya selalu bertanya terus menerus tentang sebuah kejadian, dan terkadang membuat  si ayah kebingungan untuk menjawabnya.

Beda Zaman, Beda Pula Cara Mendidik Anak

Beberapa kejadian di atas menjelaskan bahwa beda zaman, beda pula cara mendidik anak. Sekarang dunia berada dalam genggaman yang bisa diakses pada sebuah perangkat lunak, dengan satu sentuhan kita akan mendapatkan segala informasi yang kita inginkan. Di sinilah android menjadi alat yang sangat efektif untuk media pembelajaran dan membuka wawasan. Bukan hanya bagi anak melainkan bagi juga bagi orang tuanya. Kemudahan akses dalam kurun waktu 24 jam bukan lagi menjadi kendala untuk membuka wawasan anak dan menanamkan nilai luhur. Tinggal bagaimana pendekatan yang kita gunakan untuk mendidik anak kita. Karena harus disadari lingkungan keluarga adalah lingkungan paling vital dalam proses pendidikan karakter. Di sini lah nilai-nilai dasar keluhuran ditanamkan bukan hanya secara verbal melainkan juga dengan praktik.  


Proses Mendidik Karakter Anak

Dalam sebuah metode penelitian ada yang disebut dengan participant observer (penelitian kesertaan) atau ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek penelitian. Pengumpulan data dilakukan berdarkan pengalaman ketubuhan peneliti dari objek yang sedang dikaji sebelum dilakukannya analisis. Hal ini sering dilakukan oleh peneliti karena kemelimpahan data akan didapat. Sebenarnya metode ini sudah diterapkan oleh kebanyakan orang tua. Jadi, bagaimana orang tua terlibat dalam aktivitas setiap hari anak-anak mereka mulai dari mengantar sekolah, hingga mendampingi buah hati berkegiatan di luar sekolah. 

Tetapi bukan hanya pendampingan atau keikutsertaan yang diperlukan. Satu poin lagi yang menjadi hal wajib untuk mendidik karakter sang anak yakni proses analisis tentang anak. Proses ini penting dilakukan agar orang tua mampu menemukan metode tepat untuk diterapkan dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, dan masyarakat, menemukan minat yang diinginkan oleh sang anak, sekaligus membatasi informasi yang akan diterima anak dari android karena android lebih sering dimainkan di luar jam sekolah.

Melek Teknologi Modern

Tidak gagap teknologi kiranya adalah wacana yang harus dilakukan oleh setiap orang saat ini. zaman yang serba digital mau tidak mau menuntut setiap orang untuk menguasai basic teknologi yang ada sekarang. Tidak ada alasan untuk tidak mau belajar perkembangan tekhnologi informasi saat ini, jika kita tidak mau generasi saat ini dan yang akan datang rusak akibat derasnya konten negatif yang ada di internet. Yang jelas gadget akan menjadi penyebab buruk untuk anak-anak kita dan menjadi media pendidikan yang efektif jika dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan nilai-nilai luhur yang tercantum dalam setiap agama yang kita yakini dan tentunya nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila. Semua tergantung pada diri kita masing-masing.

Demikianlah tulisan Gadget  “Media Atau Penyebab” yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Romensy Augustino. Trimakasih.

Belum ada Komentar untuk "Gadget “Media Atau Penyebab”, Wajib Baca Bagi Yang Punya Gadget!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel