Cerita Menjadi Seorang Anak, Wajib Baca!


Faktaanak.com - Udara pagi masuk sedikit demi sedikit menyusup melalui lubang udara.Tak dihiraukannya masih terdapat orang atau tidak di kamar itu,burung pun menambah artian bahwa waktu tersebut telah pagi di tambah sinar yang datang dari arah timur yang mampu membangunkanku. Pagi itu adalah hari minggu aku agak sulit untuk langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena masih ada kemalasan  yang tersisa semalam untuk kembali tidur dan melanjutkan mimpi lagi.


Aku Adalah Anak Kedua dari Tiga Bersaudara

Aku memiliki seorang kakak perempuan sehingga pada saat hari libur aku tidak terlalu sibuk untuk membantu ibuku memasak didapur. Apabila hari libur tiba, hatiku sangat bahagia bagai di beri hadiah selat bukit, entah kenapa karena  menurutku pada saat hari tersebutlah semua permainan bisa dilaksanakan.Banyak yang sudah ku rencanakan kepada teman-temanku untuk bermain bersama di hari minggu. 

Bagi Anak, Bermain Adalah Segalanya

Waktu kecilku diisi dengan kebahagiaan, tidak adanya kebohongan atau rasa ingin menyaingi orang lain, yang ada hanya rasa agar terus bersama bermain tidak henti dan tidak adanya larangan dari kedua orang tua karena hal  itu yang utama.  Terkadang sangat menyebalkan jika sedang asyik bermain namun harus dilarang dan disuruh pulang kerumah hanya untuk tidur siang atau dipaksa untuk makan, itulah yang tidak ku sukai. Menurutku bermain adalah segalanya, masa anak-anak adalah masa dimana tidak adanya beban fikiran semua terasa mudah untuk dijalani tanpa adanya hambatan. 

Pekerjaan rumah atau PR yang diberikan disekolah tidak terlalu di fikirkan tidak pernah adanya rasa takut.masa anak-anak memang masa yang penuh bahagia pada saat itu belum adanya campur tangan dengan kecanggihan tekhnologi seperti saat ini. Berfikir masih sangat polos dan penuh kesederhanaan tidak adanya tingkah laku yang dibuat-buat semua perbuatan murni dari rasa keinginan dari dalam diri.

Pergeseran Zaman Oleh Kemajuan Dunia

Seiring berjalanya waktu dan sekarang mulai teralihkan permainan yang dahulu selalu menemani hari-hari kini mulai tergeser oleh kemajuan dunia. Dulu aku biasa bermain congklak, lumbung, lompat tali dan gerobak sodor. Permainan tersebut lah yang selalu menemani di saat liburan sekolah atau pun hanya sekedar libur di hari minggu. Kebersamaan pun terasa,canda tawa dan kejahilan terkadang mulai timbul jika bermain bersama,sekarang begitu miris, permainan yang dulu dilakuan dengan bertatap muka langsung sekarang pun dapat dilakukan hanya melalui dunia internet,dengan model dan ganya yang lucu-lucu dan lebih unik. Dan aku slalu teringat pada nasihat kedua orang tua ku untuk belajar agar tidak selalu bermain.aku harus mampu menyisihkan waktu untuk membantu kedua orang tuaku dan mengaji. 

Semakin bertambahnya usiaku disitulah aku mulai belajar untuk berfikir, ternyata dunia itu tidak harus penuh diisi dengan permainan.belajar untuk disiplin waktu adalah pembelajaran yang utama dan harus ku laksanakan mulai dari bangun tepat waktu,mengerjakan tugas, dan pulang pada waktunya. 

Dididik untuk Merendah dan Ramah

Disaat semuannya terasa lelah,disitulah peran kedua orang tuaku ada. Ia selalu membelaiku disaat aku jatuh, mampu memberikan kobaran semangat ketika aku sudah tak mampu melewatinya. Seorang anak memang seperti ditakdirkan untuk menjadi sumber kebahagiaan orang tua. Aku merasakan hal itu,segala perbuatan yang aku lakukan akan selalu di dukungnya asalkan perbuatan itu adalah hal yang  positif dan tidak merugikan orang lain. Aku sebagai seorang anak tidak pernah orang tua ku mendidik untuk tinggi hati, hal yang selalu di contohkannya adalah agar selalu merendah dan ramah terhadap semua orang. 

Jangan pernah merasa memiliki segalanya karena kedudukan, jabatan, harta semua yang ada sekarang hanyalah singgahan semata, yang tak mampu dibawa ke alam barzah dan hanya ditinggalkan. Sehingga sia-sia jika harus disombongkan. Karena kekuasaan sesunggugnya hanya milik Allah. Perbuatan manusia yang biasanya harus dilakukan dengan penuh tenaga sekarang pun dapat lebih praktis dilakukan. 

Teknologi Tak Merubah Cara Orang Tua Mendidik Anaknya

Era 90-anlah seperti era yang menjadi pengajaran terkhir terhadap gaya anak serba kesederhanaan. Pada masa ku dulu melihat hp yang sudah dapat membidik objek saja sudah terlihat sangat keren dan tidak semua orang mampu memilikinya, namun sekarang segala bentuk usia sudah mampu memiliki dan sangat mudah untuk di beli. Walaupun dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang namun orang tuaku tetap membimbing dan mengarahkan anak-anaknya yang tiada bosan.


Demikianlah tulisan Cerita Menjadi Seorang Anak yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Dwi Wulan Sari. Trimakasih.

Belum ada Komentar untuk "Cerita Menjadi Seorang Anak, Wajib Baca!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel